HUBUNGAN SEGI TIGA ANTARA TUHAN, MANUSIA DENGAN ALAM

Posted: 29 February 2012 in Uncategorized

“Bismillahirrahmaanirrahiim….”
ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLAHI WABARAKATUH !

Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang pantas disembah karena Allah ialah Rabb semesta alam. Ialah zat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang ada di seluruh jagat ini. Allahlah yang Maha Pencipta yang telah menciptakan alam dan seisinya termasuk kita manusia.
1. Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 29 yang berarti, “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” Dalam ayat tersebut jelaslah bahwa Allah yang telah menciptakan bumi dan juga ketujuh langit di alam ini. Begitu juga dengan manusia sebagai ciptaan Allah.
2. Bahkan dalam surat Al-Mukminun ayat 12-14 dengan jelas Allah SWT menjabarkan bagaimana Ia menciptakan manusia. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”

Dalam ayat tersebut dengan jelas Allah SWT menjabarkan proses penciptaan manusia. Padahal para ilmuwan biologi kafir baru mengetahui proses pembentukan manusia itu pada abad ke-15 M. Sementara Al-Quran yang telah ada jauh sebelum masa itu yaitu pada sekitar abad ke-7 M telah menjabarkannya terlebih dahulu dengan detail dan masuk akal. Maka jelaslah bahwa Al-Quran itu bukan karangan seseorang, melainkan benar-benar firman Allah SWT Rabb semesta Alam yang Maha Pencipta lagi Maha Memelihara.
Dengan mengetahui hal itu, maka sudah sepantasnyalah kita sebagai hamba Allah SWT yang betakwa pada-Nya bersyukur dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman dalam surat Yaasiin ayat 71-73 yang artinya,

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?”
(Yaasiin ayat 71-73)

Subhanallah, alangkah beruntungnya kita sebagai manusia. Kita diciptakan dengan bentuk yang paling baik dan kita diberi keistimewaan yang luar biasa sebagai makhluk yaitu kita diberi akal dan nafsu. Pada ayat di atas dijelaskan bahwa Allah SWT telah menyediakan alam sebagai fasilitas yang luar biasa berlimpahnya guna memenuhi kebutuhan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Namun seringkali manusia tidak menyadari rahmat dari Allah tersebut dan seringkali manusia kufur nikmat. Allah berfirman dalam surat Fushshilat ayat 49 yang artinya,

“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (Fushshilat ayat 49)

Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Semoga kita tidak termasuk hamba Allah seperti yang dijelaskan pada ayat tersebut.

Namun memang seringkali kita melihat sifat manusia yang kufur nikmat itu. Salah satu hal yang paling jelas terlihat adalah kebiasaan manusia untuk menguras semua kekayaan alam tanpa memperdulikan kelestariannya. Padahal sesungguhnya di dalam ajaran islam selalu dijelaskan bagaimana cara memanfaatkan alam dengan semestinya.
Bahkan Allah SWT dalam Al-Quran menyebutkan bahwa orang-orang merusak lingkungan itu adalah termasuk golongan orang munafik.

”Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.”
(Q. S. Al-Baqarah ; 11-12)

Dalam ayat tersebut tampak bahwa Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ini.

Pada kenyataannya saat ini manusia sudah tidak lagi memperhatikan keseimbangan alam dalam pengeksploitasiannya. Saat ini manusia sudah dikuasai nafsu untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya sehingga dalam memanfaatkan alam tak lagi memperdulikan dampak buruk terhadap keimbangan ekosistem alam di bumi ini. Hutan-hutan yang dulu lebat kini sudah gundul karena pohonnya habis ditebangi untuk berbagai macam keperluan industri. Ditambah lagi mayoritas kegiatan penebangan pohon tidak diikuti dengan kegiatan menanam pohon dengan persentase minimal setara dengan banyak pohon yang ditebang. Hal ini sungguh berakibat fatal, karena dengan demikian fungsi hutan sebagai penahan air, penyaring udara dan habitat bagi berbagai macam ekosistem flora dan fauna bisa musnah. Bila hal itu terjadi, maka jelaslah hanya dampak buruk yang akan kita terima sebagai konsekuensinya. Contohnya saja banjir bandang, tanah longsor dan yang paling parah ialah pemanasan global yang sekarang sedang terjadi. Dan ketika musibah itu terjadi, maka kita secara refleks akan berdo’a kepada Allah dengan hati yang ikhlas dan semata-mata karena Allah karena berharap kita segera diselamatkan dari musibah itu. Sungguh sangat sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Fushshilat tadi

Padahal hakekatnya manusia ini diciptakan oleh Allah ialah untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Hal tersebut dijelaskan Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 30 yang artinya,

” Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
(surat Al-Baqarah ayat 30)

Kita sebagai manusia benar-benar wajib untuk bersyukur karena kita sebagai manusia yang merupakan makhluk ciptaan Allah sama seperti tumbuhan, malaikat, hewan ataupun setan namun ternyata kita diberi suatu tanggung jawab yang istimewa. Apakah itu ? Yaitu Allah SWT mempercayakan bumiNya ini untuk diurus oleh kita manusia. Padahal sebelum Allah memberikan amanah mulia ini pada manusia, Allah telah terlebih dahulu menawarkannya pada para malaikat dan malaikat menyatakan tidak sanggup, lalu Allah juga menawarkannya kepada gunung namun gunung juga menyatakan tidak sanggup, begitu pula ketika ditawarkan kepada golongan jin serta makhluk ciptaan Allah yang lain, semuanya menyatakan tidak sanggup. Kemudian Allah mempercayakan amanah yang sungguh luar biasa berat ini kepada golongan manusia, lalu mengapa kita tidak bersyukur ?

Maka dari itu mari kita lihat kembali siapa diri kita sebenarnya. Amanah yang dibebankan oleh Allah di pundak manusia sungguh sangatlah berat. Apabila kita telah menyadari tanggung jawab itu, maka kita akan selalu bersyukur dan akan menjalankan fungsi dan tugas kita sebagai khalifah di muka bumi ini dengan baik. Yaitu kita akan benar-benar menjadi pemimpin di bumi ini dan menjaga alam ini. Kita tidak akan merusak hutan, mencemari laut dan tidak akan membuat polusi karena kita sadar bahwa bumi ini adalah titipan Allah SWT kepada manusia. Kita juga akan menjadikan bumi ini sebagai ladang amal sebagai bekal menuju kehidupan yang hakiki yaitu kehidupan akhirat, dengan cara menjaga kelestarian alam ini dan kita akan selalu berusaha sebisa mungkin agar peringatan Allah pada surat Ar-Ruum ayat 41 yang artinya, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”, menjadi cambuk yang keras agar kita selalu istiqomah dalam bertauhid kepada Allah dan menjaga kelestarian alam ciptaan Allah yang Maha Mulia ini.

Kesimpulan dari artikel ini ialah kita harus menyadari bahwa hubungan antara Allah, alam dan manusia itu sangatlah jelas. Allah sebagai Sang Pencipta yang menciptakan alam beserta isinya, lalu Allah menciptakan makhluk yang bernama manusia sebagai pengurus di bumi ini. Manusia akan bertanggung jawab langsung kepada Allah tentang hasil dari kepengurusannya itu. Barang siapa yang beriman dan bertakwa hanya kepada Allah dan dia menjalankan amanah kekhalifahan itu dengan sebaik-baiknya, niscaya dia akan mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah di dunia dan akhirat. Namun barang siapa yang ingkar kepada Allah, dia tidak memperdulikan perintah Allah SWT dan ajakan Rasulullah SAW, bahkan menentangnya, lalu dia berbuat kerusakan di bumi ini, niscaya dia akan mendapatkan murka Allah serta Laknatullah di dunia dan akhirat. Sesungguhnya alam ini akan menjadi saksi di hadapan Allah SWT dan tidak akan ada satu orang manusiapun yang bisa memungkiri perbuatannya selama di dunia ini ketika tiba masanya hari perhitungan karena sesungguhnya Allah SWT itu Maha Mengetahui Segala Sesuatu.

“Subhanakallahumma wabihamdika asysyhaduualla illaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaih…”
“Walhamdulillahirabbil’alaamiin…”

Ref : dkmfahutan.wordpress.com dan dari Berbagai Sumber,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s