KLH: Kualitas Lingkungan Sultra Terendah di Indonesia Timur

Posted: 26 June 2011 in Promo Sultra, RIMBA ANOA, Sekitar Sultra, Umum
Tags: , , ,

KENDARI–MICOM: Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) merilis bahwa indeks kualitas lingkungan Sulawesi Tenggara (Sultra) merupakan yang terendah di kawasan Indonesia timur.

“Berdasarkan data terakhir kita tahun 2009, Indeks Kualitas Lingkungan menurut provinsi, Sultra masuk dalam urutan ke-18 dari seluruh provinsi atau merupakan yang terburuk di kawasan timur Indonesia,” kata Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Kementerian Lingkungan Hidup, Karliansyah, saat mengukuhkan Forum Kaukus Lingkungan Hidup Kegislatif Sultra, di Kendari.

Ia menjelaskan, posisi Sultra tersebut dengan kualitas air 9,38, kualitas udara 97,10 dan tutupan lahan 75,10 dengan indek kualitas lingkungan hidup 60,53.

“Sulawesi Utara menempati urutan terbaik satu, Sulawesi Tengah urutan ke-14, Sulawesi Selatan dan Sulawesi barat yang ke-15 sedangkan Jakarta adalah yang terburuk di Indonesia,” katanya.

Menurutnya, berbagai kebijakan telah diambil pemerintah dalam rangka menekan laju kerusakan lingkungan, misalnya menerbitkan berbagai peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup dan menerapkan sanksi yang berat bagi pelaku pengrusakan dan pencemaran.

“Kami juga sudah mencanangkan beberapa kebijakan yang akan dilaksanakan, diantaranya, rencana aksi nasional perubahan iklim (RANPI), program nasional penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) 26 persen melalui kegiatan tanam dan pelihara pohon,” katanya.

Kebijakan lain, kata dia, adalah kampanye penggunaan energi ramah lingkungan dan pengelolaan sampah dengan melaksanakan 3R (reduce, reuce, recycle).

“Beberapa tahun terakhir ini, kami telah melaksanakan program eco office seperti menghemat penggunaan AC, listrik air, pembuatan lubang biopori, pengelolaan sampah dan penggunaan sampah dengan dua sisi,” katanya.

Kegiatan seperti itu, katanya, terbukti mampu menghemat energi dan mengemat penggunaan sumberdaya yang berasal dari lingkungan hidup, serta dapat menghemat pengalokasian anggaran untuk keperluan rumah tangga kantor.

“Kerusakan lingkungan yang terjadi masih banyak yang diakibatkan oleh ulah tangan manusia, konsekwensi logis dari ulah manusia tersebut yang saat ini menjadi pusat perhatian dunia adalah adanya akumulasi gas rumah kaca. Fenomena ini dikenal dengan pemanasan global yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim,” pungkasnya. (Ant/Ol-3)

*Sumber : http://www.mediaindonesia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s