Potensi Flora dan Fauna Sulawesi Tenggara

Posted: 22 June 2011 in RIMBA ANOA, Sekitar Sultra, Umum

Pulau Sulawesi memiliki arti yang strategis di dalam kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, karena mempunyai keanekaragaman Jenis flora fauna yang khas dan tidak terdapat di tempat lain. Hal ini disebabkan karena Sulawesi (bersama Maluku dan Nusa Tenggara) terletak di wilayah Wallacea (Wal1acea region), yakni daerah di antara garis Wallacea dan garis Weber yang memisahkan daerah biogeografi Indomalaya di sebelah Barat dan Australasia di sebelah Timur.

Beberapa jenis satwa endemik Sulawesi yang terdapat di Sulawesi Tenggara, antara lain anoa dataran tinggi, anoa dataran rendah, babirusa, maleo, dan monyet hitam Sulawesi. Menurut Sujatnika dkk (1995) beberapa jenis burung endemik Sulawesi yang terdapat di Semenanjung Tenggara Sulawesi adalah: elang alap kecil (Accipter nanus), maleo senkawor (Macrocephalon maleo), mandar dengkur (Aramidopsis plateni), kareo Sulawesi (Amauromis isabellina), pergam tutu (Ducula forsteni), delimukan Sulawesi (Gallicomba tristigmata), serindit paruh merah (Loriculus exllis), pungguk oker (Ninox ochracea), cekakak hutan tungging hijau (Actenoides monachus), cirik-cirik pasa (Meropogon forsteni), kepodang-sungu biru (Coracina temminckii), sikatan leher merah (Ficedula rufigula), kacamata perut pucat (Zosterops consobrinorum), dan raja perling Sulawesi (Basilornis celebensis).

Sedangkan menurut BAPPENAS (1993), jenis-jenis burung endemik Sulawesi yang beberapa species terdapat di TN Rawa Aopa Watumohai dan atau Pulau Muna dan Buton adalah sebagai berikut: Spilornis rufipectus, Accipiter griseiceps, Accipiter rhodogaster, Macrocephalon maleo, Turacoena manadensis, Ducula luctosa, Trichoglossus ornatus, Prioniturus platurus, Loriculus stigmatus, Tanygnathus sumatranus, Paenicophaeus calorynchus, Centropus celebensis, Pelargopsis melanorhyncha, Coracias temminckii, Penelopides exarhatus, Rhyticeros cassidix, Mul1eripicus fulvus, Corracina bicolor, C. leucopya, Dicaeum aureolimbatum, D. celebicum, Scissirostrum dubium, dan Corvus typicus.

Kecuali burung, beberapa jenis mammalia endemik Sulawesi terdapat di Sulawesi Tenggara (BAPPENAS, 1993), yakni: kuskus (Phalanger ursinus), monyet hitam Sulawesi (Macaca ochreata), Prosciurillus abstrusus, Sus celebensis, babirusa (Babyrousa babirusa), anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis), dan anoa dataran tinggi (Bubalus quarlesi).

Sebagai upaya pengawetan keanekaragaman jenis flora dan fauna, Pemerintah telah mengeluarkan sejumlah peraturan perundangan untuk melindungi beberapa jenis satwa dan tumbuhan dari ancaman kepunahan sebagai akibat aktivitas perdagangan, perburuan, dan penangkapan/koleksi secara illegal. Beberapa jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi tersebut terdapat di Sulawesi Tenggara.

Flora Identitas Daerah Sulawesi Tenggara adalah Anggrek Serat (Diplocaulobium utile Krzl.) yang termasuk Suku Orchidaceae. Anggrek ini banyak dimanfaatkan untuk bahan dasar anyaman tradisional yang khas, dibentuk untuk kotak perhiasan, tas tangan, dan untuk hiasan tepi tikar. Cara pengolahannya adalah. umbi semunya dikumpulkan untuk dibelah-belah memanjang dan dipipihkan. Pita-pita yang diperoleh sewaktu masih basah dililitkan pada sebatang balok bulat, sesudah kering akan terbentuk bahan anyaman yang halus, mengkilap, dan kuning keemasan serta dapat diwarnai. Karena bahan bakunya makin sukar diperoleh di lapangan, maka hasil kerajinan dari bahan Anggrek Serat tersebut menjadi mahal. Tumbuhan epifit ini umbi semunya tumbuh merumpun dengan rimpang beruas pendek sehingga membentuk roset seperti paku sarang burung dan menarik untuk dipelihara sebagai tanaman hias. Daunnya tunggal berbentuk lanset, bunganya keluar dari lipatan pangkal daun, berkelopak dan daun mahkota yang sempit .memanjang berwarna kekuningan. Bunga muncul setelah penurunan suhu malam hari yang cukup rendah. Dalam setahun dapat berbunga 3 kali atau lebih. Anggrek serat dapat dikembangbiakkan dengan membelah-belah rumpunnya, atau dengan bijinya. Diplocaulobium utile belum banyak dibudidayakan karena bunganya tidak tahan lama. Anggrek ini tumbuh baik di daerah panas, pada ketinggian 0- 150 m dpl. Sinonim untuk Anggrek Serat dengan nama marga berbeda adalah Dendrobium utile Kerabat-kerabat dekat anggrek tersebut tersebardi Sulawesi dan Irian Jaya.

Fauna Identitas Daerah Sulawesi Tenggara adalah Anoa (Bubalus depressicornis (H.Smith) yang termasuk suku Bovidae. Binatang ini mirip kerbau tetapi pendek serta lebih kecil ukurannya, kira-kira sebesar kambing. Panjang badan kurang lebih 175 cm, dengan tinggi 80 cm, dan beratnya sekitar 200 kg. Anoa binatang berkuku genap, di setiap kakinya terdapat 4 buah kuku, dua kuku di belakang lebih kecil dan tidak memecah tanah. Rambut badannya halus, warna bervariasi dari coklat hingga coklat tua kehitam-hitaman. Umumnya yang jantan berwarna lebih gelap dari pada betina. Anak anoa mempunyai bulu halus yang tebal berwarna coklat keemasan. Kepala anoa bertanduk pendek 2 buah, berbentuk lurus ke belakang serta meruncing dan agak memipih serta berlobang di tengah. Tanduk ini merupakan senjata untuk mempertahankan diri. Satwa ini bisa menjadi berbahaya apabila terdesak. Habitat anoa adalah di hutan dataran rendah dan hutan berawa-rawa. Binatang ini suka berkubang di lumpur dan merendam diri di air waktu pagi dan sore hari. Makanannya berupa rumput-rumputan, pucuk tumbuhan lain. Anoa merupakan satwa endemic Sulawesi dan telah dilindungi berdasarkan Ordonansi Perlindungan Binatang Liar 1931 No.266. (Depdagri, 1995).

*Sumber :IDRAP (http://www.idrap.or.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s