BOMBANA,The Land Of Bomb

Posted: 30 November 2010 in KUTIPAN, RIMBA ANOA, Sekitar Sultra, Umum

Akhir April lalu, saya yang termasuk ke dalam rombongan gabungan peneliti P-P2Par dan staf Kementerian Pembangunan Daerah.Tertinggal berkesempatan untuk mengunjungi salah satu wilayah yang terletak di Provinsi Sulawesi Tenggara, yaitu Bombana, sebuah kabupaten yang masih asing di telinga orang awam. Nama yang terkesan bombastis ini ternyata merupakan wilayah baru hasil pemekaran dari Kabupaten Buton.
Bombana sendiri merupakan julukan tanah Moronene, berasal dari perkataan “Wonua yi Bombana wita yi Moronene” (Negeri Bombana,tanah leluhur Moronene). Moronene merupakan suku tertua sekaligus etnis mayoritas yang mendiami wilayah Sulawesi Tenggara. Menurut sebagian antropolog asal usul nenek moyang mereka berasal dari daratan Filipina yang diperkirakan mulai bermukim sejak tahun 1720. Karena tekanan dari suku-suku pendatang dan penyerangan pasukan DI/TII (Tentara Islam Indonesia), suku ini terdesak mundur ke arah kepulauan di sekitar perairan Selat Kabaena. Ketiadaan penerbangan langsung menuju wilayah Bombana membuat kami harus mendarat di Bandara Wolter Monginsidi,
Kendari dan selanjutnya disambung dengan perjalanan darat pada keesokan harinya. Jarak Kendari-Bombana kurang lebih sejauh 160 km yang memakan waktu sekitar 3-4 jam. Sementara itu, perjalanan menuju ibukota Kabupaten Bombana, yaitu Kasipute yang terletak di Kecamatan Rumbia harus ditempuh melalui rute zigzag dengan kondisi jalan yang kurang mulus. Laju kendaraan diperlambat ketika kami menembus Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TN RAW) yang merupakan salah satu dari 50 taman nasional di Indonesia. Kondisi jalan yang bergelombang amat membutuhkan kelihaian
prima dari pengemudi. Pengurangan kecepatan ini menguntungkan kami yang berharap dapat melihat aksi sekelompok rusa yang dikabarkan merupakan daya tarik utama yang dikembangbiakan di TN RAW. Jalur tembus ini ternyata merupakan jalan berstatus provinsi,yang merupakan satu-satunya akses darat yang menghubungkan Bombana dengan ibukota provinsi.
Luas wilayah taman nasional ini kurang lebih 105.195 hektar yang meliputi dua kabupaten, yaitu Kabupaten Bombana dan Kabupaten Konawe Selatan. Hal yang melatarbelakangi penetapannya sebagai taman nasional adalah keberadaan ekosistem yang sangat beragam dan perlu dilestarikan untuk dapat dimanfaatkan bagi kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan, rekreasi,dan pariwisata. Beberapa ekosistem yang ada di TN RAW ini antara lain ekosistem hutan bakau/mangrove, hutan pantai, savana, hutan hujan pegunungan rendah, serta ekosistem rawa. TN RAW ini konon
merupakan rumah bagi berbagai macam jenis binatang, termasuk diantaranya 155 jenis burung yang 37 jenis di antaranya merupakan spesies endemik Sulawesi seperti maleo (Macrocephalon maleo) ataupun burung hantu Sulawesi (Tyto rosenbergii)
. Tak ada satu jonga-pun (jonga= rusa menurut bahasa daerah Sulawesi) yang kami temui di padang savana pada siang hari bolong seperti ini. Sejauh mata memandang, ribuan rusa seakan raib tanpa jejak. Aksi penembakan liar yang berkembang sejak lama dan dimotori oknum menjadi penyebab utama mengapa populasi rusa kian menipis dari tahun ke tahun. Setelah waktu dzuhur kami memasuki Kota Kasipute dan langsung disambut oleh rombongan staf Bapeda Kabupaten Bombana untuk beramah tamah dan makan siang. Menu spesialnya adalah…dendeng rusa. Perjalanan sore kami teruskan bersama rombongan penggembira tersebut. Kali ini, kami mengunjungi Tahi Ite di Desa Rau-Rau yang terkenal akan kolam air panasnya. Lokasi tersebut terdapat di wilayah transmigrasi dengan bentang alam yang dibentuk oleh kelompok perbukitan yang sangat kental akan vegetasi savananya. Kolam air panas tersebut memiliki keunikan berupa
kandungan garam yang cukup tinggi dengan vegetasi khas pantai walaupun jaraknya relatif jauh dari laut. Keunikan lain, kolam ini sering menggelegak menimbulkan semburan-semburan kecil jika didekatioleh massa.
Tak heran jika wilayah ini dinamai Tahi Ite. Lokasi yang kerap kali dikunjungi oleh wisatawan lokal untuk sekedar berekreasi ataupun berendam minta berkah ternyata merupakan arena permainan sapisapi montok berkalung lonceng kepunyaan para transmigran. Salahsalah melangkah, gawat akibatnya…kaki bisa terkena segundukan bom organik.
Keesokan paginya kami mengunjungi Pulau Kabaena yang terletak kurang lebih 3 jam dengan memakai speed boat bersama
rombongan Bupati Kabupaten Bombana yang diliput oleh teman teman dari Kendari TV. Walaupun saya bukan superstar dalam acara tersebut, setidaknya saya berharap tampang saya akan nongol ditelevisi nasional. Salah satu feature alam yang menjadi focal point Pulau Kabaena adalah Gunung Sambapolulu yang mempunyai ketinggian sekitar 1400 m. Bentuknya yang unik menghasilkan interpretasi yang berbeda-beda di benak para pengamat. Ada yang mengasosiasikannya sebagai 2 scoop es krim, walaupun tak jarang ada yang mengkaitkannya dengan ”properti” wanita.
Pulau Kabaena sendiri berpenduduk sekitar 35.000 jiwa, terbagi atas dua kecamatan yang termasuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Bombana, yaitu Kecamatan Kabaena dengan ibu kotanya Tuomolole dan Kecamatan Kabaena Timur dengan ibu kota Dongkala serta Kecamatan Telaga Raya yang termasuk ke dalam Kabupaten Buton. Secara
geografis, Pulau Kabaena merupakan sebuah pulau kecil dengan luas sekitar 1000 km2 yang mempunyai biodiversity
tinggi dengan dominasi bentang alam perbukitan. Struktur geomorforlogi yang tersusun di Pulau Kabaena menjadikan
wilayah ini kaya akan sumberdaya mineral, misalnya nikel, marmer, magnesit, giok, atau sumber energi geotermal
yang ditemukan di wilayah pantai. Bayangkan, tak lama setelah kami menjejakkan kaki di pulau ini, seorang penduduk setempat mengasongkan batu giok seberat kurang lebih satu kilo yang dijual sangat murah. Batu giok yang sama, jika dijual di Jakarta bisa berharga puluhan juta rupiah. Usut punya usut, giok ini ternyata merupakan contoh bagi workshop pengasahan batu yang sedang diadakan dikantor kecamatan. Nafsu berkata lain, beberapa hari kemudian dilarikanlah si
giok ke kantor kementerian untuk pengetesan lebih lanjut. Ternyata asli. Gara-gara giok ini pulalah, Kabaena sering ditawari proposal berupa konsesi penambangan batu giok dan aneka sumber daya mineral lainnya. Kalau hanya berorientasi pada peningkatan ekonomi semata, dapat dibayangkan, Pulau Kabaena akan rusak dalam waktu singkat.
Pulau ini merupakan wilayah yang subur dengan cultural landscape yang didominasi oleh pertanian dan perkebunan. Beberapa tanaman yang dibudidayakan oleh penduduk antara lain tanaman aren, kelapa dalam, kelapa hibrida, kakao, cengkeh,kemiri, kopi, lada serta jambu mete. Perkebunan jambu mete sendiri memiliki luas terbesar yaitu mencakup sekitar 57% dari luas penanaman komoditas perkebunan.
Pohon aren, yang tumbuh hampir di setiap lembah dan lereng pegunungan di pulau ini diolah untuk menghasilkan gula merah yang disebut dengan Gula Kabaena. Sejak jaman Belanda, Pulau Kabaena telah dihubungkan oleh ruas jalan dengan
total panjang sekitar 80 km yang membentuk poros pelabuhan barat (Sikeli)-pelabuhan timur (Dongkala). Sebagian ruas jalan di pulau hingga kini masih dalam kondisi aslinya di jaman Belanda, yaitu jalan tanah yang bergelombang dan dilapisi
oleh lumpur jika musim hujan tiba. Jalan ini melewati beberapa titik anak sungai yang dapat melebar dan mengecil dengan arus yang tiba-tiba dapat menjadi deras. Sopir kami beberapa kali kewalahan dalam menaklukan medan Kabaena Timur
yang belum tersentuh infrastruktur, akibatnya mobil yang kami tumpangi pun hampir wassalam masuk jurang.Kondisi infrastruktur yang parah memaksa para penduduk untuk merogoh kocek lebih dalam untuk ongkos transportasi, dimana untuk memenuhi kebutuhan sosial-ekonominya, taruhlah mengurus KTP pulang pergi ke ibu kota Kecamatan Dongkala,
seorang ibu harus mengeluarkan uang sekitar Rp.120.000,-. Alat transportasi umum yang tersedia hanyalah ojek yang tersedia dalam jumlah minim.Sementara itu, beberapa kendaraan umum yang diperuntukkan sebagai angdes (angkutan desa) kini menjadi barang rongsokan karena mahal biaya perawatannya dan mungkin juga tak kuasa untuk
menghadapi medan Kabaena yang ganas.Mahalnya ongkos transportasi makin menghasilkan penurunan daya beli penduduk serta rendahnya pemasaran produk ke wilayah lain. Faktor ekonomi pula yang mungkin menjadi pertimbangan dalam pembuatan bangunan baru, di mana pendudukMoronene kini lebih memilih bahan baku bangunan dari pasir dan batu bata ketimbang dari kayu. Bahan kayu rupanya jauh lebih mahal, sedang pasir dapat mereka ambil secara gratis dari tepi sungai.
Penduduk Kabaena begitu antusias menerima kedatangan rombongan Bupati yang secara tak terduga disusul oleh kedatangan rombongan Kapolda Sultra. Bu Camat Sikeli yang menjadi tuan rumah tampak sangat kerepotan menyiapkan event dadakan yang bertubi-tubi. Selama dua malam kami dipaksa untuk menghadiri malam hiburan yang diadakan oleh penduduk setempat. Beberapa atraksi kesenian yang digelar adalah Tarian Lumense yang diperkuat oleh 10 penari perempuan yang terlihat garang dengan tebasan goloknya. Selain itu, ada Tarian Lulo yang dipertunjukkan oleh belasan penari cilik yang mengingatkan saya akan tarian tradisional Filipina “Tinikling“ yang memakai galah bambu. Tarian ini rupanya diilhami oleh gerak-gerik burung dalam menghindari jebakan bambu yang dipasang petani. Kecepatan gerakan kaki
para penari dalam menghindari jepitan galah bambu sangat mengagumkan.Hal yang menarik lainnya adalah tarian Lulo Umum yang merupakan tarian pergaulan, dan saat ini sangat digemari oleh generasi muda Sultra. Sekumpulan muda-mudi saling berpegangan tangan dan membentuk lingkaran kemudian kaki mereka menari mengikuti irama medley. Tidak cukup sulit untuk mengikuti gerakannya, kecuali ketabahan ekstra untuk mengikuti lagu-lagu nostalgia dan kesiagaan untuk mengantisipasi remasan tangan seorang pria gatal yang berada di sebelah. Kami berkesempatan pula untuk mengunjungi Pulau Sagori yang terletak kurang lebih 30 menit dari Kabaena. Pulau ini membentuk setengah lingkaran dengan panjang pulau kira-kira mencapai 3000 m dan lebar terbesar pulau mencapai 200 m. Pulau Sagori yang dihuni sekitar 78 KK ini merupakan wilayah yang minim akan keberadaan prasarana dan sarana, terutama ketiadaan air bersih yang harus disuplai dari Pulau Kabaena. Penduduk harus membeli air bersih secara rutin dengan harga sekitar Rp. 2000,- per 20 liter. Pemerintah daerah tampaknya sangat bersemangat untuk membangun Pulau Sagori dan wilayah perairan sekitarnya sebagai objek wisata unggulan dalam usaha menyaingi kabupaten tetangga, yaitu Wakatobi yang terkenal sebagai
salah satu tempat menyelam paling terkenal di dunia. Namun, ketika kami merapat ke Pulau Sagori, yang kami lihat hanyalah onggokan lesu terumbu karang yang telah mati. Penangkapan ikan dengan memakai bahan peledak
(amonium nitrat) saat ini telah menyebabkan kerusakan yang sangat parah pada terumbu karang di kawasan perairan Pulau Sagori dan kawasan perairan Sulawesi Tenggara pada umumnya. Kerusakan terumbu karang ini secara drastis mengakibatkan penurunan tingkat keragaman biota laut dan populasi ikan, peningkatan ancaman gelombang laut dan abrasi terhadap daratan pulau, serta mengacaukan keseimbangan ekologi pesisir secara keseluruhan. Hal ini diakui oleh Kapolda Sultra sebagai hal yang sangat meresahkan, dimana penegakan hukum sangat sulit dilakukan karena para peracik bom yang umumnya adalah warga biasa, berkeliaran tak terhitung lagi jumlahnya dan tak terbendung lagi aksinya. Ikan-ikan yang dikonsumsi oleh penduduk, termasuk ikan yang kami santap dengan lahap selama di Bombana, alhasil adalah hasil pemboman… Duh.. [ ]

Sumber :Warta Pariwisata
Oleh : Ervi Virna N
Edisi : Agustus 2007 Vol.9 No.2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s