MEKONGGA : Puncak Batu Nan Indah

Posted: 3 June 2010 in RIMBA ANOA

Pegunungan ini terletak di Sulawesi Tenggara, tepatnya di kabupaten Kolaka kecamatan Ranteangin. Gunung ini disebut Mekongga karena sesuai dengan nama penduduk asli daerah ini yaitu suku Tolaki Mekongga yang dahulunya mendiami kerajaan Mekongga. Menurut cerita rakyat di pegunungan ini terdapat Tebing Putih yang bernama Musero-sero yang merupakan pusat kerajaan jin untuk wilayah Kolaka Utara. Pada intinya gunung ini jarang didaki dan dikunjungi, namun pesonanya. tidak kalah dengan gunung lain yang ada di Indonesia. Pegunungan yang mempunyai puncak setinggi 2.620 m dpl ini masih sangat perawan. Untuk mencapai pegunungan ini dimulai dari kota Kendari yang merupakan ibukota Sulawesi Tenggara, kemudian dari sana dilanjutkan dengan menggunakan Bis atau mobil kecil seperti Kijang, harga tiketnya Rp.25.000,- per orang tujuannya adalah Kolaka. Waktu tempuh Kendari – Kolaka adalah sekitar 4 jam melewati jalan poros propinsi yang cukup baik. Kolaka adalah sebuah kota pelabuhan kecil di tepi teluk Bone, untuk menuju desa terakhir yaitu Desa Tinukari, dari Kolaka kita menumpang kendaraan kecil dengan tarif Rp.15.000,- orang. Lamanya perjalanan hingga Desa Tinukari adalah 3 jam, sepanjang perjalanan akan disunguhi oleh pemandangan Teluk Bone yang indah. Di Pantai Tamborasi ada sungai Tamburasi yang disebut sebagai sungai terpendek didunia, karena Jarak antara hulu dan muaranya di laut hanya 10 m.
Rute Pendakian
DESA TINUKARI
Desa Tinukari ini berada 300 km sebelah Barat daya dari Kota Kendari. Dari desa ini jejeran pegunungan Mekongga jelas terlihat. Desa yang dihuni oleh suku Tolaki Mekongga yang merupakan turunan dari kerajaan Mekongga. Desa ini sudah cukup baik keadaannya dan jalan didesa ini pun sudah diaspal. Jalur pendakian hanya satu yaitu dari desa Tinukari ini dan kondisinyapun tidak begitu jelas, karena jarangnya ditempuh oleh pendaki.
DESA TINUKARI – CAMP I
Perjalanan dimulai setelah menyelusuri jalan aspal desa dan masuk kejalan setapak didalam kebun coklat, kemudian akan bertemu sebuah sungai dengan lebar sekitar 10 meter dan arusnya cukup deras. Kemudian jalan setapak yang sering dipakai pencari rotan yang terus mengikuti sungai. Sebelum mencapai sungai Aala Mosembo dan Aala Tinukari. kita akan dihadapakan oleh 4 sungai lainnya. Selepas daerah sungai ini baru jalan setapak masuk kedalam hutan dan mulai menanjak tajam. Tanaman masih didominasi oleh rotan dan tanaman sejenis perdu. Sekitar 2 jam berikutnya akan samapi dijalan HBI, yaitu sebuah perusahaan logging kayu pernah beroperasi tahun 1996. Kemudian tutup setelah diprotes oleh masyarakat akibat kerusakan lingkungan yang ditimbukannya. Sepanjang jalan beakas HBI yang sudah tertutup oleh ilalang dan rotan banyak ditemukan kotoran sapi. Yang konon merupakan sapi milik DI/TII dulu. Sapi-sapi tersebut sengaja dilepas di hutan ini sebagai ransum para tentara DI/TII jaman perang dahulu. Camp I merupakan sebuah pondok kayu milik pencari rotan yang berada pada ketinggian 490 m dpl. Waktu tempuh dari desa Tinukari ke Camp I ini adalah sekitar 7 jam.
CAMP I – CAMP II
Jalur awal pendakian dari Camp I munuju Camp II masih mengikuti jalur jalan HBI. Diketinggian 1.000 m dpl, panorama mulai terbuka, vegetasi tumbuhan kayu mulai bertambah, perdu, lumut dan kantong semar muali mendominasi. Disebelah timur tampak jajaran perbukitan Mekongga yang menjari kemana-mana, dan arah jalan setapak menuju kesana. Camp II berada pada ketinggian 1.480 m dpl.
CAMP II – CAMP III
Setelah meninggalkan jalan HBI dan menjelang ketinggian 1.900 m dpl, dikejauhan mulai tampak Osu Mosembo. Jalur pendakian naik turun punggungan, kita harus waspada sewaktu berjalan agar tidak salah punggungan, karena bentuk punggungan gunung ini yang menjalar kesegala arah. Kemudian jalan setapak akan samapai didaerah bebatuan yang di sebut Musero-sero diketinggian 2.320 m dpl. aerah ini diyakini oleh penduduk setempat sebagai pusat kerajaan jin untuk daerah Kolaka Utara. Disini terdapat sebuah batu yang seperti meriam dan moncongnya menghadap kearah “KABAH” tebing batu nun jauh di sebelah Timur. Setelah sehari berjalan baru sampai di Camp III yang merupakan sebuah dataran seluas lapangan bulu tangkis yang berada di puncak bukit. Ketinggiannya 2.520 m dp, dari Camp III ini puncak terlihat jelas.
CAMP III PUNCAK
Puncak Mekongga merupakan batuan gamping, untuk menuju kesana harus beberapa kali berpindah punggungan dan melipir . Mendekati puncak kita akan dihadapkan oleh sebuah tebing, tidak ada jalan lain tebing tersebut harus dipanjat untuk mencapai puncak Mekongga. Hati-hati karena batruan tebing ini mudah lepas.Puncaknya merupakan bebatuan tajam yang cukup luas.
Selama perjalanan ke puncak mekongga yang membutuhkan waktu 4 hari, para pendaki akan disuguhi suasana hutan tropis yang jarang dijamah orang, merdunya kicau burung, setelah menyeberangi pertemuan Sungai Mosembo dan Sungai Tinokari,para pendaki mungkin akan berpapasan dengan anoa (Hewan Khas Sulawesi Tenggara) atau Ular Piton dan Cobra,jadi tetap waspada.
Perijinan
Tidak ada aturan khusus untuk mendaki gunung ini, tapi ada baiknya anda melengkapi diri dengan durat jalan dari organisasi atau bila perlu dari kepolisian tempat asal. Selebihnya kita cukup minta ijin pada Kepala Desa Tinukari.
Tempat menarik
Keindahan dan keperawanan alam pegunungan Mekongga ini adalah merupakan atraksi utama dalam perjalanan pendakian ke gunung ini, selain itu juga adat istiadat dari penduduk asli juga tidak kalah menariknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s