Pesona Alam Kabaena

Posted: 4 May 2010 in RIMBA ANOA

Pulau Kabaena yang kokoh dengan berbagai sumber daya alamnya cukup menjanjikan bagi investor. Pulau ini menyimpan potensi tambang yang luar biasa. Saat ini tambang yang sedang diolah baru sebatas tambang nikel, namun Kabaena disinyalir memiliki hampir semua jenis tambang, termasuk emas dan intan. Selain tambang, pesona alam pulau penghasil gula merah tersebut cukup untuk memanjakan mata para wisatawan yang berkunjung.

Walaupun luasan Pulau Kabaena hanya kurang lebih 120 km, namun pulau ini menyimpan banyak potensi yang belum tergarap maksimal. Selain sektor pertambangan, Kabaena yang berada dalam wilayah Kabupaten Baombana, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) ini memiliki keindahan pantai yang sangat beranekaragam.

Pesisir pantainya dapat dijumpai hamparan batu-batuan permata biru yang berkilauan diterpa sinar matahari. Penduduknya mayoritas suku Kabaena, disamping suku-suku lainya seperti suku Bugis dan suku Bajo. Kehidupan masyarakatnya tergantung pada hasil laut dan pertanian, selebihnya mengembangkan usaha perdagangan.

Bagi yang menyusuri lingkar pantai Pulau Kabaena akan terasa dimanjakan dengan wajah-wajah alam yang dapat memberikan kepuasan jiwa. Keindahan pantai berpasir putih yang dilengkapi dengan jenis batuan permata biru, hutan mangrove yang kaya dengan berbagai jenis habitatnya menambah khasanah dan keindahan pesisir pantai pulau Kabaena.
Disepanjang pantai kita dapat menyaksikan dinding-dinding tebing yang menghadap matahari terbit yang dihiasi tekstur alamiah yang membentuk lukisan relief abstrak hasil kikisan air. Dipuncak tebing anda dapat menyaksikan sunrise dan sunset muncul dihiasi dengan suara satwa yang menndiami rimba disekitar tebing.
Pemandangan alami dihiasi pula dengan tumbuhan liang disekitar tebing dan gua-gua alam dengan ornamen yang sangat fantastis dan menakjubkan. Sebagian besar gua-gua yang dijumpai mengandung nilai histories dan filosofis dengan terdapatnya benda-benda peninggalan kerajaan islam dan telah menjadi prasasti sejarah.
Satu diantaranya adalah gua Batu Buri yang terletak di Desa Lengora. Gua ini indah dan dianggap keramat oleh warga Kabaena. Di Kabaena terdapat pula sejumlah peninggalan sejarah yang amat menakjubkan, seperti benteng-benteng yang rata rata dibangun didataran tinggi, walaupun sudah menjadi situs purbakala dan benda cagar budaya (BCB), namun sejumlah benteng di Kabaena belum semuanya terdata sebaga situs peninggalan sejarah.

Menyusuri lingkaran pantai Pulau Kabaena, yang nampak menonjol hanya pada tantangan medan, karena harus melewati batu-batuan raksasa yang menjadi bongkahan di sepanjang pantai berbentuk canyon yang seolah-olah memiliki nilai misted tersendiri. Yang dibutuhkan dalam melewati jalur ini hanyalah kejelian dan ketrampilan dalam memilih jalur yang tepat sebagai tempat pijakan. Ditinjau dari aspek konservasi, melewati jalur seperti ini dinilai lebih akrab dengan lingkungan, karena berusaha untuk tidak merusak ekosistem yang ada di sekitar pantai dengan tidak meninggalkan pengaman.

Terlepas dari kesulitan dan tantangan yang dihadapi, perjalanan menyusuri pantai Pulau Kabaena ini sungguh menawarkan cerita tersendiri yang tidak akan dijumpai di pantai lainnya. Saat di tepian pantai kita digoda dengan buaian angin, desiran ombak, nyanyian beraneka burung, keindahan sunset dan sunrise di lautan bebas, seolah turut memberi spirit.

Di pesisir pantai kita dapat menjumpai warna pasir yang beraneka ragam. Pantai berpasir putih, pasir hitam, batuan hitam, batuan permata biru menjadi pelengkap keindahan pantai. Sehingga dengan keindahan inilah sebagian besar masyarakat di Sulawesi Tenggara menjadikan lingkaran pantai Pulau Kabaena sebagai lokasi untuk kegiatan ecotourisme.

Di pesisir pantai Pulau Kabaena, keramahan penduduk menjadi teman yang paling berharga dan memperkuat rasa kedekatan dengan alamnya. Bercengkrama dengan masyarakat pada satu sisi menjadi satu hal yang sangat indah dan unik di mana terdapat berbagai makanan khas. Salah satunya dan yang paling unik adalah Gula Kelapa. Gula ini diracik dari hasil campuran antara saripati pohon enau yang dicampur dengan kelapa muda, kemudian dimasak dalam tempat khusus lalu dikeringkan secara alamiah.

Hasil dari pencampuran lalu dibungkus dalam satu kemasan khas hingga siap untuk disantap. Hampir setiap wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke kawasan wisata ini selalu menjadikan gula kelapa sebagai bingkisan khas dan dianggap berharga yang nilainya sama dengan souvenir-souvenir di daerah lainnya. (aan/dabs)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s