4096485250.jpg

GROBOGAN, KOMPAS.com — Namanya Aries Susanti Rahayu. Pada usia 23 tahun, gadis asal Desa Taruman, Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, itu mengharumkan nama Indonesia setelah berhasil menjadi peserta tercepat pada Kejuaraan Dunia Panjat Tebing-IFSC World Cup 2018 di Chongqing, China, untuk kategori Speed Climbing Performa.

Ayu berhasil menaklukkan atlet Rusia, Elena Timofeeva, jawara di sejumlah superseries panjat tebing, bahkan nyaris memecahkan rekor dunia balapan di dinding panjat vertikal.

Dalam video berdurasi pendek yang viral di media sosial, aksi Ayu saat memanjat dinding vertikal setinggi 50 kaki dalam hitungan waktu 7,51 detik memukau. Ayu melesat cepat bak Spiderman.
Dia merayap dinamis melawan efek gravitasi mengungguli lawannya. Kecepatan Ayu mendekati rekor dunia yang pernah ditorehkan atlet Rusia, Iulina Kaplina, dengan catatan waktu 7,46 detik. Kaplina sebenarnya juga tampil dalam kejuaraan ini, tetapi gugur di babak penyisihan.

Kerja keras

Untuk sampai ke titik ini tentu bukan perkara mudah. Semuanya bermula saat Ayu duduk di bangku sekolah dasar.

Saat SD, Ayu sebenarnya menekuni cabang olahraga lari. Dia lalu diperkenalkan cabang olahraga panjat tebing oleh guru olahraganya.

Gadis berparas cantik kelahiran Grobogan, 21 Maret 1995, ini kemudian beradaptasi dengan dunia panjat tebing sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Dari situlah kepiawaian Ayu dalam memanjat dinding vertikal terus terasah.

“Didikan para pelatih, baik pelatih yang mengenalkan saya dengan panjat tebing maupun pelatih pelatnaslah yang membuat saya bisa seperti ini. Dari yang semula berlatih dengan fasilitas seadanya hingga fasilitas yang memadai. Terima kasih semuanya,” tutur Ayu saat ditemui, Minggu (20/5/2018).

Putri bungsu pasangan S Sanjaya (55) dan Maryati (48) itu lalu mulai berjaya di beragam pergelaran kejuaraan panjat tebing, khususnya kejuaraan Speed Climbing, baik di tingkat lokal, nasional bahkan internasional. Namanya selalu masuk peringkat.

Pada kejuaraan Asian Climbing Championship di Iran tahun 2017, misalnya, Ayu meraih peringkat nomor satu beregu dan nomor 3 perorangan untuk kategori speed. Sementara itu, pada ajang World Cup Series panjat tebing kategori speed di China tahun 2017, Ayu meraih peringkat ke-4 dan peringkat ke-2.

Pada 2018 World Cup Series panjat tebing kategori speed di Moscow, dia meraih juara 4. Lalu pada Kejuaraan Dunia Panjat Tebing-IFSC World Cup 2018 di Chongqing, China, dia meraih juara pertama.

“Sepekan setelah juara satu di China, saya meraih peringkat ke-3 kategori speed World Cup Series di China. Total medali hingga saat ini, 60 medali lebih. Saya lupa jumlahnya,” tutur Ayu.
2350732470.jpg

Hobi panjat pohon

Ayu lahir dari keluarga petani. Cita-citanya hanyalah ingin mengharumkan nama Indonesia dan mengangkat derajat keluarganya dengan berjibaku melawan gravitasi di papan vertikal.

“Sejak kecil, orangtua berharap saya bisa menjadi polisi. Namun, hal itu kandas karena saya lebih memilih panjat tebing. Saat ada pendaftaran polisi, saya lebih berat berlatih dan mengikuti kejuaraan panjat tebing. Kesempatan itu belum tentu datang kedua kali. Saat ini, panjat tebing adalah jalan hidup saya. Dan cita-cita saya, hanya ingin membahagiakan ayah dan ibu,” tutur Ayu.

Maryati, ibu Ayu, mengatakan, keluarga sangat bangga dengan prestasi Ayu. Di mata keluarga, sejak kecil pun Ayu sudah dikenal sebagai sosok yang energik.

Menurut Maryati, tak seperti gadis kecil sebayanya waktu itu yang suka bermain boneka, Ayu kecil justru senang berlar hingga memanjat pohon.

“Ayu kecil sering membuat kami waswas dengan kebiasaanya memanjat pohon kelapa dan alpukat hingga ke puncak. Kami tak menyangka, Ayu yang suka berlari dan memanjat pohon itu akhirnya menjadi atlet panjat tebing yang melambungkan nama Indonesia. Selamat Ayu, teruslah berlatih menjadi yang terbaik. Kami bangga padamu,” kata Maryati yang merupakan mantan TKI di Arab Saudi ini.

Ramadhan

Dalam beberapa hari ini, Ayu berkesempatan pulang ke kampung halamannya yang berlokasi di kawasan hutan perbukitan karst. Ayu ingin menjalankan ibadah puasa Ramadhan bersama keluarganya di kampung.

Ayu memang baru bisa berkumpul dengan keluarga sejak kejuaraan di Chongqing, 6 Mei lalu.

“Malam ini saya balik ke Yogyakarta, berlatih mempersiapkan untuk Asian Games bersama atlet lainnya. Kami bertekad memborong medali untuk Indonesia. Sebelumnya saya memang jarang pulang karena padat jadwal latihan. Dari mengikuti berbagai kejuaraan, saya perlahan belajar bagaimana mengontrol diri untuk tenang dan fokus,” ungkap Ayu.

Di rumah sederhana berukuran 9 x 11 meter, Ayu tinggal bersama kedua orangtuanya. Rumah berdinding tembok dan beralaskan keramik itu sebagian baru saja rampung direnovasi.

“Maaf ya rumahnya seperti ini,” tutur gadis berhijab itu.
Namun, dia senang karena jerih payahnya di dunia panjat tebing bisa disisihkannya untuk membantu orangtua memperbaiki rumah.

Selama ini, selain dorongan dari rekan dan pelatih, Ayu mengatakan, dukungan kuat keluarganya telah menjadikannya begitu bersemangat untuk menekuni dunia panjat tebing. Ayu sangat mencintai keluarganya, begitu pula sebaliknya.

“Senang sekali rasanya bisa berkumpul bersama keluarga setelah sekian lama tak bertemu. Saya kangen Ayah dan Ibu. Tanpa mereka, saya bukan apa-apa,” tutur gadis berhijab itu.

Lulus sekolah menengah atas (SMA), Ayu melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Perempuan yang saat ini memiliki tinggi 159 sentimeter dengan berat 57 kilogram tersebut menempuh Jurusan Manajemen (S-1) Universitas Muhammadiyah Semarang. Hanya saja, karena kesibukannya, Ayu harus cuti ketika memasuki semester III.

“Biaya sendiri dari hasil panjat tebing. Usai Asian Games nanti, insya Allah saya akan fokus kuliah, ” tuturnya.

Penulis:Puthut Dwi Putranto Nugroho
Editor :Caroline Damanik
Sumber : Kompas.com

Advertisements

180518_rangking-ifsc_1-1024x436.jpg

CHINA–Tim nasional sport climbing Indonesia sukses menduduki peringkat pertama dunia dalam pemeringkatan International Federation of Sport Climbing (IFSC) yang dirilis usai seri kejuaraan dunia di Tai’an, China, beberapa waktu lalu.

Dengan jumlah poin 1023, Indonesia menggusur Rusia yang selama bertahun-tahun tak tergoyahkan. Rusia dengan poin 980 harus rela turun ke peringkat ke-2. Ada pun Perancis yang sukses merebut dua emas di nomor speed world record putra dan putri naik ke posisi ke-3 dengan total poin 590.
170518_tim-nasional-copy.jpg

Kesuksesan ini tak luput dari dominasi atlet-atlet Indonesia dalam final di tiga seri kejuaraan dunia yang diikuti: Moscow, Chongqing dan Tai’an. Dari tiga seri terebut Indonesia sukses membawa pulang ke tanah air tujuh medali (1 emas, 3 perak, 3 perunggu).

Selain menempatkan timnas sport climbing sebagai peringkat teratas dunia, Indonesia juga menempatkan dua atletnya di jajaran elit atlet panjat dunia. Mereka adalah Aries Susanti Rahayu dan Aspar Jaelolo.

Dalam pemeringkatan IFSC, untuk nomor speed world record putri, peringkat pertama diduduki Anouck Jaubert dari Prancis dengan 240 poin. Tempat kedua diduduki Aries Susanti Rahayu dengan 220 poin dan Elena Timofeeva dari Rusia dengan 169 poin.
170518_ranking-women

Sementara itu, atlet putri Indonesia lainnya berada di peringkat empat yakni Agustina Sari dengan 151 poin, Rajiah Sallsabillah pada peringkat delapan dengan 115 poin.

Puji Lestari di peringkat 9 (110 poin), Santi Wellyanti peringkat 12 (78), Nurul Iqomah peringkat 18 (42), disusul Fitriyani di peringkat 29 (16) dan Mudji Mulyani di peringkat 34 (6).

Pada nomor speed world record putra, peringkat satu hingga tiga secara berurutan ditempati Dmitrii Timofeev dari Rusia dengan 187 poin, Aspar Jaelolo dari Indonesia dengan 161 poin, dan Bassa Mawem dari Prancis dengan 151 poin.
170518_ranking-men.jpg

Peringkat empat diduduki Sabri dari Indonesia dengan 149 poin. Pemanjat putra Indonesia lainnya yakni Hinayah Muhammad menempati peringkat enam (132 poin).

Pangeran Septo Wibowo Siburian di peringkat 12 (83), disusul Veddriq Leonardo di peringkat 14 (69), Alfian Muhammad di peringkat 16 (61), Abudzar Yulianto di peringkat 23 (37), dan Rindi Sufriyanto di peringkat 25 (31). ***

Sumber : http://www.fpti.or.id

036973500_1526542423-Dua_Srikandi_Mengibarkan_Merah_Putih.JPG

Liputan6.com, Bandung – Perempuan pendaki Fransiska Dimitri Inkiriwang (Deedee) dan Mathilda Dwi Lestari (Hilda) mewakili tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (Wissemu) berhasil menapakkan kaki di puncak Gunung Everest, pegunungan Himalaya di perbatasan negara Nepal dan Tibet, pada Kamis, 17 Mei 2018.

Keduanya menapakkan kaki di titik tertinggi di dunia tepat pukul 05.50 waktu setempat atau pukul 07.05 WIB.

Deedee dan Hilda memulai perjalanan dari Everest Base Camp (EBC), pada Jumat, 11 Mei 2018, di ketinggian 5.150 meter di atas permukaan laut (mdpl) sebagai titik awal pendakian.

Bendera Merah Putih pun akhirnya berkibar di puncak tertinggi dunia, puncak Gunung Everest setinggi 8.848 mdpl.
Pencapaian ini semakin bermakna mengingat puncak Gunung Everest menjadi penutup yang manis dari misi eksepedisi mengibarkan bendera Indonesia di tujuh gunung tertinggi di tujuh benua, yang sering disalahartikan sebagai tujuh gunung tertinggi di dunia.

Salah satu pendaki tim Wissemu, Mathilda melalui pesan satelit menyampaikan hal itu sesaat setelah sampai di Puncak Gunung Everest.

“Puji Tuhan Summit! Saat ini tanggal 17 Mei 2018, pukul 5.50 Sang Saka Merah Putih berkibar di puncak Everest! Bendera Indonesia di tujuh puncak dunia! Keberhasilan ini kami persembahkan untuk persatuan bangsa! Untukmu Indonesia! Terima kasih banyak Unpar, Mahitala, Bank BRI, Multikarya Asia Pasifik Raya!” kata Hilda dalam rilis yang diterima Liputan6.com.

Hilda juga sempat mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua rekan yang telah memberi dukungan dari Tanah Air dan berharap keberhasilan menggapai atap dunia atau puncak Gunung Everest dapat menjadi berita baik untuk Indonesia.

041864100_1526542423-Kedua_Pendaki_Berfoto_di_Tengah_Pendakian.jpg

REKTOR UNPAR BANGGA

Rektor Universitas Katolik Parahyangan Mangadar Situmorang mengaku turut bangga atas pencapaian tim Wissemu.

“Selamat untuk Deedee dan Hilda. Bangga terhadap dua putri terbaik Indonesia atas capaian di puncak terakhir dari 7 benua, Everest. Atas nama civitas akademika Universitas Katolik Parahyangan, saya menyampaikan selamat dan bangga terhadap dua mahasiswa Unpar yang telah menggoreskan prestasi di puncak tertinggi,” ungkapnya.

Memulai upaya menuju puncak atau summit attempt dari Camp 3 (8.225 mdpl) pada 17 Mei 2018 pukul 23.30 waktu setempat, tim melakukan perjalanan selama 6,5 jam untuk mencapai puncak tertinggi di dunia tersebut.

Perjalanan menuju puncak dari titik terakhir ini pun ditemani dengan angin kencang dan suhu udara yang mencapai -25 derajat Celsius. Perjalanan menggapai atap langit ini tentu bukan perkara mudah dan perlu waktu yang panjang.

Meninggalkan Indonesia sejak 29 Maret 2018 kemarin, selama satu setengah bulan berada di Nepal dan Tibet, tim fokus mempersiapkan diri melalui serangkaian kegiatan aklimatisasi di medan pendakian.

Keberhasilan ini merupakan suatu bentuk persembahan dari Mahitala Unpar untuk persatuan bangsa Indonesia. Kabar baik untuk Indonesia ini sekaligus menjadi sedikit penyejuk di tengah rangkaian kejadian berita duka yang tengah menimpa negeri tercinta ini.

Di sisi lain, melalui keberhasilan ini, tim Wissemu mencatatkan diri sebagai tim perempuan Indonesia pertama yang menyelesaikan trek Seven Summits. Ya, pendakian menuju Puncak Gunung Everest adalah pendakian pamungkas setelah sebelumnya Deedee dan Hilda sudah mengibarkan Bendera Merah Putih di enam puncak gunung tertinggi di enam lempeng benua lain.

046954100_1526542423-Foto_Kedua_Srikandi.jpg

PERJALANAN DUA SRIKANDI

Deedee dan Hilda memulai perjalanan pada 17 April 2018 dengan proses aklimatisasi dari EBC (5.400 mdpl) hingga Camp 1 (7.050 mdpl). Setelah proses aklimatisasi tersebut, tim Wissemu melakukan proses pemulihan di Desa Zhaxizongxiang yang berada pada ketinggian 4.150 mdpl.

Pemulihan ini dilakukan sembari menunggu cuaca pendakian terbaik. Pada tanggal 11 Mei akhirnya semesta mendukung perjalanan tim, dengan cuaca yang cerah mereka memulai pendakian selama enam hari dan akhirnya mencapai puncak Everest.

Perjalanan menuju puncak dimulai dari Everest Base Camp Tibet (5.200 mdpl). Jalur yang dilalui sama dengan jalur saat proses aklimatisasi, yaitu dari EBC menuju Intermediate Camp (IR) (5.800 mdpl), lalu bergerak menuju Advanced Base Camp (ABC) (6.400 mdpl) dan beristirahat sehari di ABC.

Setelah cukup mengisi tenaga untuk summit attempt, tim akhirnya bergerak menuju Camp 1 (7.050 mdpl), lalu keesokan harinya menuju Camp 2 (7800 mdpl), dan pada tanggal 16 Mei 2018 sampai di Camp 3 (8.271 mdpl).

Pada 16 Mei 2018 malam, setelah cukup beristirahat selama sekitar 7 jam, tim memulai summit push. Tim mengabarkan tim pendukung di Bandung sebelum memulai perjalanannya. Perjalanan dimulai dengan bergerak menuju First Step (8501mdpl) – Mushroom Rock ( 8.549 mdpl) – Second Step (8.577 mdpl), dan Third Step (8.690 mdpl).

Perjalanan tersebut penuh dengan tebing bebatuan dan dengan cuaca yang berangin. Tantangan terakhir sebelum mencapai puncak adalah Summit Ridge (8.800 mdpl), jalan setapak dengan sisi kiri dan kanan jurang yang terjal. Pada pukul 05.50 waktu setempat akhirnya tim menapakkan kakinya di pun Puncak Everest (8.848 mdpl).

052631000_1526542423-Rombongan_Pendaki.jpg

PEREMPUAN ASIA TENGGARA PERTAMA

Deedee dan Hilda sebelumnya dilepas dari Bandara Soekarno Hatta pada Kamis, 29 Maret 2018. Dua orang mahasiswi yang masih terdaftar aktif di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung ini sebelumnya telah mengibarkan bendera Merah Putih di enam puncak gunung tertinggi di enam lempeng benua lain.

Dengan pencapaian ini, kedua srikandi tersebut mencatatkan diri sebagai perempuan Indonesia dan perempuan Asia Tenggara pertama yang berhasil menyelesaikan missi Seven Summits.

Pendakian menuju Puncak Gunung Everest akan menggenapi rangakaian ekspedisi Seven Summits yang telah dimulai sejak tahun 2014. Pendakian menuju puncak gunung tertinggi di dunia ini akan sangat sulit dilakukan.

Meski perjalanan ini hampir terancam, tidak terealisasi karena permasalahan dana, berkat dukungan oleh Bank BRI sebagai sponsor utama, Multi Karya Asia Pasifik Raya (MKAPR), Universitas Katolik Parahyangan, sponsor pendukung dan seluruh warga Indonesia, sehingga perjalananan ini dapat terealisasikan.

Oleh : Huyogo Simbolon
Sumber : Liputan6.com

IMG_20180516_155737Sebenarnya apa sih arti imsak itu?

Saat bulan Ramadan tiba, umat muslim diwajibkan untuk berpuasa dari mulai terbit matahari hingga terbenamnya matahari (Maghrib). Sebelum berpuasa, umat muslim dianjurkan untuk makan sahur. Setelahnya, barulah berpuasa.

Sesuai dengan hadist Nabi, Rasulullah bersabda, “Bersahurlah kamu karena sesungguhnya sahur itu barokah” (HR. Bukhari dan Muslim). Meski hukumnya sunnah, Nabi Muhammad SAW tetap menganjurkan umatnya untuk makan sahur. 

Saat makan sahur, umat muslim selalu memperhatikan waktu imsak. Dimana saat waktu imsak itu tiba, artinya bahwa waktu sahur telah usai. Dan semua umat muslim dilarang untuk makan dan minum.

Banyak yang menganggap bahwa waktu imsak adalah 10 menit menjelang adzan Subuh dan biasanya ditandai bunyi sirine dari masjid, radio, ataupun televisi. Ternyata anggapan tersebut masih kurang tepat.

Dengan kata lain sebelum waktu adzan Subuh dikumandangkan, umat muslim masih diperbolehkan untuk makan dan minum. Tapi tidak boleh lewat dari waktu Subuh.

Jadi, ketika Anda bangun untuk makan sahur tapi waktu sudah sangat dekat dengan waktu adzan subuh, dan radio, masjid, serta televisi sudah menyatakan imsak, tidak usah khawatir. Karena sebenarnya Anda masih punya waktu 10 menit lagi untuk makan sahur. Manfaatkanlah waktu itu dengan makan dan minum.

Pergunakanlah 10 menit itu untuk makan sahur agar puasa di siang hari Anda tidak akan terasa berat. Sabda Rasulullah SAW, “Senantiasalah umatku berada dalam kebaikan (Puasa) selama mereka menyegerakan berbuka dan melambatkan sahur.” (HR. Imam Ahmad dari Abu Zarr ra).

Sumber : Dari berbagai sumber

 

Marhaban yaa Ramadhan

Posted: 16 May 2018 in Umum

Keluarga Besar & Segenap Pengurus Wanapal Sultra mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1439 H.

Semoga diampuni segala kesalahan dan diberikan kedamaian, serta kebaikan untuk kita semua, untuk bangsa dan negara. images (1)

 

20140428Guguran-Lava-Pijar-Gunung-Slamet-280414-iz-2

Guguran lava pijar kawah Gunung Slamet terlihat dari kawasan wisata Baturraden, Banyumas, Jateng, Minggu (27/4) malam.

 

Pekalongan (ANTARA News) – Kepala Pos Pengamatan Gunung Slamet PVMBG Desa Gambuhan Pemalang, Jawa Tengah, Sudrajat mengatakan letusan abu vulkanik pada Kamis sekitar pukul 16.00 WIB mencapai 10 kali atau naik dibanding kondisi pada pagi harinya.

“Letusan abu vulkanik Gunung Slamet cenderung naik dibanding Kamis pagi. Jika pada Kamis pagi letusan hanya mencapai 500 meter tetapi pada sore harinya mencapai 1.500 meter,” katanya saat dihubungi di Pekalongan, Kamis.

Menurut dia, letusan abu vulkanik Gunung Slamet yang berada diperbatasan Kabupaten Pemalang, Tegal, dan Purwokerto ini mengarah ke arah barat.

“Saat ini status Gunung Slamet naik satu level menjadi siaga. Indikator peningkatan level tersebut dapat dilihat dari peningkatan aktivitas kegempaan dan energi di gunung tersebut yang semakin meningkat,” katanya.

Ia mengatakan berdasar pengamatan yang dilakukan selama sepekan terakhir ini aktivitas Gunung Slamet menunjukan peningkatan.

Bahkan, kata dia, setiap hari tampak jelas adanya semburan lava pijar khususnya jika dilihat pada malam hari.

Ia mengatakan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi telah melarang masyarakat beraktivitas dalam radius empat kilometer dari puncak Gunung Slamet.

“Naiknya status dari waspada menjadi siaga, masyarakat dan pengunjung dilarang beraktivitas dalam radius empat kilometer dari puncak Gunung Slamet,” katanya.

 

 

Sumber : antaranews.com

Editor: Fitri Supratiwi

(ANTARA FOTO/Idhad Zakaria)

Suasana Merapi selepas erupsi, Kamis sore (27/03/2014).

MAGELANG, KOMPAS.com — Sejak status Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta meningkat menjadi Waspada pada Selasa (29/4/2013) pukul 23.50 WIB, muncul fenomena suara dentuman yang terdengar hingga jarak tertentu.

Menurut Subandrio, Kepala Balai Penelitian dan Penyelidikan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, dentuman itu diduga karena adanya arus konveksi atau turbulensi gas di dalam perut Merapi sehingga terjadi benturan antara bebatuan dan gas.

“Terdengar suara dentuman dari Pos Pemantauan Babadan, Rabu sore kemarin. Terdengar terus-menerus sebanyak 24 kali, lebih banyak dari hari sebelumnya. Ini membuktikan bahwa aktivitas gas Merapi cukup tinggi,” katanya seusai meninjau Pos Pemantauan Babadan di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Kamis (1/5/2014).

Dari Pos Pemantauan Babadan yang berjarak sekitar 4,4 kilometer dari puncak Merapi, tercatat sejak 29 April 2014, terdengar dentuman 17 kali, lalu meningkat pada 30 April 2014 sebanyak 24 kali yang terdengar hingga jarak 8 kilometer dari puncak. Selain itu, pada 30 April 2014 juga tercatat 35 kali gempa low frequency dan enam kali gempa tektonik.

“Kemungkinan kecil dinding Merapi jebol ke samping akibat terkikis oleh aktivitas turbulensi itu,” imbuhnya. Subandrio mengatakan, pihaknya hingga kini masih melakukan pemantauan secara intensif aktivitas gas di perut Merapi apakah ada peningkatan atau menurun.

Sementara itu, aktivitas warga di sekitar gunung api teraktif di dunia itu masih berjalan seperti hari-hari biasanya meskipun warga sering mendengar suara dentuman keras dari arah puncak Merapi.”Iya belakangan ini sering terdengar suara dentuman, dem! begitu. Tetapi, sampai hari ini kami masih biasa saja, bekerja seperti biasa,” kata salah seorang warga lereng Merapi, Sutarman.

Hingga kini, status Merapi masih Waspada atau level II. Warga di sekitarnya diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, tetapi tidak perlu panik serta tidak mudah terpancing dengan isu-isu yang tidak jelas sumbernya.

 

 

Sumber : Kompas.com

Foto       : Tribun Jogja/Padhang Pranoto


%d bloggers like this: